It´s Ok Not To Be Ok
Judul itu saya temukan dari instagram seorang influencer yang memiliki riwayat bipolar.
Video yang ia posting itu sangat membuat saya tersadar hingga saya meneteskan air mata.
Tersadar bahwa emosi negatif yang ada dalam diri kita tidak selalu salah dan tidak harus selalu kita tekan.
Seperti rasa sedih, marah, tersinggung, tertekan dan emosi negatif lainnya yang umumnya kita akan tahan sehingga mengendap dalam diri kita sampai dia semakin berdarah dan bernanah.
Padahal itu tidak baik untuk kesehatan batin kita.
Tak apa jika sesekali kau luapkan apa yang kau rasakan itu dan biarkan lah apa yang terjadi nanti.
Entah nanti membuat orang lain merasa kasihan, atau membuat orang lain marah dengan kejujuranmu, atau bagaimana pun respon mereka, biarkan.
Sudah terlalu lama kau memendam sendiri rasa itu.
Mungkin memang sekarang saatnya kau keluarkan dan rasakan kelegaan yang ada dalam hati mu setelah itu.
Saya tipe orang yang termasuk sabar.
Bukan bermaksud sombong, tapi banyak orang mengakuinya.
Sering kali apa yang saya terima dapat membuat orang lain marah atau tersinggung, tapi saya tidak.
Saya biasa saja.
Tapi tidak jarang saya sebenarnya tersinggung dan marah, tapi saya redam karena keinginan saya yang tidak ingin terjadi konflik.
Akibatnya saya hanya bisa mentransfer endapan amarah tersebut menjadi tangisan yang tak berkesudahan.
Saya kadang bertanya tanya, kenapa saya sering bersedih sendiri? Apa saya yang terlalu mudah sedih atau memang lawan bicara saya yang sudah berlebihan? Saya tidak tahu. Tapi saya sedih. Itu yang saya tahu.
Hingga suatu hari saya benar-benar tidak bisa meredam amarah saya yang hampir setiap hari saya lakukan. Saya benar-benar marah sampai bibir dan badan saya bergetar dan saya menangis.
Anehnya setelah itu saya sama sekali tidak menyesal dengan apa yang sudah saya lakukan itu.
Saya lega. Sangat lega.
Rasanya itu mewakili semua amarah yang dengan sengaja dulunya saya redam.
Meskipun lawan bicara saya juga ikut marah atau sepertinya lebih marah dari saya karena kemarahan saya, tapi saya lega dan bisa tersenyum sendiri setelahnya.
Saya pasrah bagaimana hubungan kami nanti.
Saya juga manusia biasa. Saya punya hati yang tidak selamanya bisa menerima rasa sakit jika terus menerus diberikan.
Tapi meskipun kemudian saya bisa melupakan luka-luka itu, ia akan tetap memberikan bekas tanpa kita minta.
Dan hanya waktu yang bisa menyembuhkannya.
Intinya jangan takut untuk meluapkan segala emosi negatifmu asal tidak terlalu sering dan berlebihan.
Karena pasti banyak hal-hal positif yang dapat kamu syukuri dalam hidupmu.
Jangan lupa hapus air matamu dan mulailah tersenyum lagi hari ini 😊
Video yang ia posting itu sangat membuat saya tersadar hingga saya meneteskan air mata.
Tersadar bahwa emosi negatif yang ada dalam diri kita tidak selalu salah dan tidak harus selalu kita tekan.
Seperti rasa sedih, marah, tersinggung, tertekan dan emosi negatif lainnya yang umumnya kita akan tahan sehingga mengendap dalam diri kita sampai dia semakin berdarah dan bernanah.
Padahal itu tidak baik untuk kesehatan batin kita.
Tak apa jika sesekali kau luapkan apa yang kau rasakan itu dan biarkan lah apa yang terjadi nanti.
Entah nanti membuat orang lain merasa kasihan, atau membuat orang lain marah dengan kejujuranmu, atau bagaimana pun respon mereka, biarkan.
Sudah terlalu lama kau memendam sendiri rasa itu.
Mungkin memang sekarang saatnya kau keluarkan dan rasakan kelegaan yang ada dalam hati mu setelah itu.
Saya tipe orang yang termasuk sabar.
Bukan bermaksud sombong, tapi banyak orang mengakuinya.
Sering kali apa yang saya terima dapat membuat orang lain marah atau tersinggung, tapi saya tidak.
Saya biasa saja.
Tapi tidak jarang saya sebenarnya tersinggung dan marah, tapi saya redam karena keinginan saya yang tidak ingin terjadi konflik.
Akibatnya saya hanya bisa mentransfer endapan amarah tersebut menjadi tangisan yang tak berkesudahan.
Saya kadang bertanya tanya, kenapa saya sering bersedih sendiri? Apa saya yang terlalu mudah sedih atau memang lawan bicara saya yang sudah berlebihan? Saya tidak tahu. Tapi saya sedih. Itu yang saya tahu.
Hingga suatu hari saya benar-benar tidak bisa meredam amarah saya yang hampir setiap hari saya lakukan. Saya benar-benar marah sampai bibir dan badan saya bergetar dan saya menangis.
Anehnya setelah itu saya sama sekali tidak menyesal dengan apa yang sudah saya lakukan itu.
Saya lega. Sangat lega.
Rasanya itu mewakili semua amarah yang dengan sengaja dulunya saya redam.
Meskipun lawan bicara saya juga ikut marah atau sepertinya lebih marah dari saya karena kemarahan saya, tapi saya lega dan bisa tersenyum sendiri setelahnya.
Saya pasrah bagaimana hubungan kami nanti.
Saya juga manusia biasa. Saya punya hati yang tidak selamanya bisa menerima rasa sakit jika terus menerus diberikan.
Tapi meskipun kemudian saya bisa melupakan luka-luka itu, ia akan tetap memberikan bekas tanpa kita minta.
Dan hanya waktu yang bisa menyembuhkannya.
Intinya jangan takut untuk meluapkan segala emosi negatifmu asal tidak terlalu sering dan berlebihan.
Karena pasti banyak hal-hal positif yang dapat kamu syukuri dalam hidupmu.
Jangan lupa hapus air matamu dan mulailah tersenyum lagi hari ini 😊
Komentar
Posting Komentar