Love Letter..


Nadia… Maaf jika ini terlalu mendadak. Maaf jika aku begitu lancang. Maaf jika terlalu cepat bahkan belum 40 hari kepergian suami yang begitu kau cintai itu. Tapi aku tidak mau menyesal untuk yang kedua kalinya. Menyesal untuk kesempatan yang sama.

Nad, semua yang ada padamu masih sama seperti 5 tahun yang lalu. Saat terakhir kalinya kita berbincang 2 bulan sebelum kau memutuskan untuk menikah. Tentunya bukan denganku. Matamu tetap dengan indahnya memancarkan semangat dan inspirasi bagiku. Senyum tulusmu yang tanpa lelah kau ukir sepahit apapun kondisimu. Dan itu membuatku bersemangat menulis surat ini untukmu.

Lima tahun yang lalu, sungguh kejadian yang paling aku sesali sepanjang usiaku saat ini. Ketika kau yang malah berusaha bertemu denganku. Aku yang begitu bodoh tidak berinisiatif terlebih dulu untuk melakukannya padahal kau sudah sering memberikan signal padaku. Dan aku baru tersadar setelah kau sudah dengannya.

Waktu itu kau bilang padaku ada pria yang datang untuk menikahimu. Seorang dosen muda yang juga sahabat kakakmu. Dengan menunduk kau ceritakan itu padaku. Dan tanpa rasa bersalah aku hanya berkata agar kau pikirkan siapa yang terbaik menurutmu, pilihlah dia. Waktu itu yang terpikir di benakku hanya ingin kau bebas dan tanpa paksaan dalam memilih pasangan hidupmu. Tapi ternyata itu salah. Seharusnya aku lebih memperjuankan mu dan segera datang ke orang tuamu untuk melamarmu. Bahkan sejak aku jatuh hati padamu dulu sampai percakapan terakhir itu, aku tidak pernah sama sekali bersilaturahmi ke orang tuamu. Sungguh bodoh sekali aku, Nad… Aku yang pada saat itu dengan idealisme yang begitu tingginya tidak terpikir untuk lebih memperjuangkan cinta. Yang ada hanyalah karir dan masyarakat. Bahkan aku sampai menterlantarkan dirimu dan perasaanmu selama itu. Maaf kan aku, Nad… Aku pun terlambat untuk menyadari arti ajakanmu bertemu denganku saat itu. Aku baru sadar, kalau kau ingin aku yang memperjuangkanmu, bukan dia.. Aku melihat setetes air mata terjatuh saat kau menoleh dariku untuk pamit pulang. Kau terus menunduk bahkan sampai jejakmu hilang di tikungan. Ku rasa kau menunduk agar tidak ada yang tahu kau menangis saat itu. Setelah itu, tak ada lagi sinar mata dan senyuman yang memberikan semangat dan ispirasi padaku. Hilang, bukan untukku lagi.

Kau mungkin tidak tahu Nad, kalau aku hadir saat hari pernikahanmu. Aku melihatmu bersanding dengan dosen muda itu. Dia sungguh gagah dan tampan Nad. Begitu serasi denganmu yang sangat mempesona dengan gaun abu-abu itu. Tapi aku tak sempat menyalamimu dan memberi ucapan selamat. Bahkan aku tak sempat mencicipi hidangan prasmanan yang mewah itu. Aku hanya sempat melihatmu sekilas dengan senyuman yang terus kau ulas sambil berjabat tangan dengan tamu-tamu. Aku tidak kuat Nad. Rasanya dadaku begitu sesak sampai-sampai aku sulit bernafas waktu itu. Ku putuskan untuk segera berbalik dan meninggalkan tempat itu. Aku sungguh tidak kuat melihatnya. Maaf nad karena kado yang aku siapkan untukmu belum sempat aku berikan padamu. Tapi jangan khawatir, kado itu masih tersimpan rapi di lemariku jika kau menginginkannya.

Sejak saat itu, penyesalan tak henti-hentinya menghantuiku. Tapi percuma nad, kau sudah menjadi milik orang lain. Aku terus berusaha melupakanmu. Aku sibukkan diri dengan fokus pada karirku tanpa sempat aku memikirkan penggantimu. Walau orang tuaku sering menjodoh-jodohkanku dengan putri temannya, bahkan sahabat-sahabatku pun ikut mendorongku untuk segera menikah, aku tetap tidak bisa melupakanmu nad. Wanita-wanita itu sungguh tidak bisa menggantikan posisismu di hatiku nad. Bahkan sampai saat ini.

Tapi di sisi lain, setelah 3 tahun aku berkutat dengan karirku, aku sukses menjadi seorang Manajer Bank sekarang. Cita-citaku zaman mahasiswa dulu yang benar-benar terwujud. Saat aku diangkat waktu itu, sungguh orang yang pertama kali ingin aku hubungi adalah kau nad. Kau tahu nad, aku menjadi manajer termuda selama Bank itu berdiri. Hebat kan ? J

Nad, perasaanku padamu dari dulu tidak pernah berubah. Sekuat apa pun aku berusaha melupakanmu, itu semua tidak ada gunanya. Meskipun dulu aku pernah menyesal karena tidak memperjuangkanmu lebih kuat sehingga kau sempat menjadi milik orang lain, perasaanku tetap sama nad. Mencintai orang yang sudah menjadi istri orang lain tidak dosa kan nad??

Tapi penyesalan itu menguap begitu saja, ketika aku melihat seorang anak laki-laki mungil yang memanggilmu dengan sebutan Umi’. Dia sangat tampan seperti ayahnya, tapi matanya sama sepertimu Nad. Membawa kesejukan saat melihatnya. Ku rasa kelak dia akan menjadi seorang pemimpin yang hebat di masa depan. Sukses seperti Umi’ dan Abinya.

Nad, Raihan butuh sosok Ayah. Dia masih sangat kecil untuk hidup tanpa seorang Ayah. Yah meskipun Nabi Muhammad SAW pun terlahir tanpa seorang Ayah, tapi jika aku datang padamu lagi Nad, apakah kau mau menerima ku?? Menerima orang yang banyak dosa padamu? Menerima orang yang dulu sempat menterlantarkanmu? Tapi aku sudah berubah Nad. Aku tidak seperti dulu lagi. Tidak menjadi Ahmad yang egois dan penakut lagi untuk mengungkapkan perasaannya. Tidak akan menjadi Ahmad yang menterlantarkan cintanya. Nad, apa yang bisa aku lakukan agar kau mau memaafkanku? Bagaimana caranya agar aku bisa menebus segala dosa-dosaku padamu di masa lalu? Nad.. aku mencintaimu karena Allah. Aku akan melakukan apapun agar kau mengerti bahwa aku sungguh mencintaimu. Aku bisa menerima Raihan karena aku pun sudah mulai mencintainya sejak pertama melihatnya. Kelak aku akan berusaha menjadi Ayah yang baik baginya. Aku akan berusaha sebaik-baiknya tanpa menghapus kenangan bahwa ia memiliki Ayah sehebat Mas Rizal. Nad aku akan kembali esok lusa untuk mendengarkan jawabanmu. Apapun itu insyaAllah akan aku terima dengan lapang dada. Salam untuk si mungil Raihan.

Wassalam…


Ahmad Fatih 


*Copast tulisan seseorang. Semoga bisa diambil hikmahnya sendiri dan semoga bermanfaat J

Komentar

Postingan Populer